Bitcoin Uang Tunai Masa Depan

uang,bitcoin,uang virtual
Mungkinkah bitcoin bisa menjadi uang tunai masa depan. Bitcoin adalah sebuah unit virtual yang berfungsi sebagai alat tukar dalam dunia digital.
Jenis alat tukar virtual  BitCoin  tersebut sangat mudah memperoleh popularitas karena menawarkan banyak keuntungan.
Alat tukar virtual ini menggunakan teknik enkripsi dan algoritma rumit yang final dan terdesentralisasi secara peer-to-peer untuk mengatur pembentukan unit uang dan memverifikasi pemindahan unit-unitnya. Dari situ, ia bebas dari kemungkinan bobolnya server pusat dan memotong kebutuhan membayar pihak ketiga (seperti bank) untuk menggunakan jasanya, seperti memindahkan uang.
Sifat utama lainnya adalah bahwa mereka bergerak secara independen, terpisah dari bank sentral negara. Sistem mata uang virtual bekerja secara tertutup sepenuhnya lewat saluran blockchain, di mana pengguna Bitcoin betul-betul tertutup dan anonim satu sama lain.
Ini berarti, pergerakan uang virtual tersebut --di kebanyakan negara-- sama sekali bebas dari pajak dan nilainya tidak bisa diturunkan atau dinaikkan oleh pemerintah.
Dengan meningkatnya popularitas dan terbatasnya pasokan Bitcoin , yang kemudian terjadi mudah ditebak: nilai akan naik.
Pada April 2015, satu BTC hanya bernilai sekitar 230 dolar AS, atau Rp 3 juta. Saat mei 2017i, sekeping (virtual) BTC mencapai 2.200 dolar AS atau senilai Rp 30 juta rupiah. Naik 10 kali lipat dalam waktu dua tahun saja.

Tingginya nilai cryptocurrency tentu saja membuat banyak orang berebut untuk mendapatkan Bitcoin . Uang virtual tersebut dinilai bisa menjadi ladang investasi yang menjanjikan, apalagi tren penggunaannya sebagai uang virtual juga semakin diakui secara luas.
Kini, setidaknya ada 100 perusahaan yang menerima pembayaran menggunakan Bitcoin. Perusahaan-perusahaan ini mencakup raksasa bisnis dunia seperti Amazon, Microsoft, Dell, Steam, Rakuten, dan sebagainya.
Penerimaan cryptocurrency sebagai alat tukar di perusahaan-perusahaan besar tersebut juga secara konstitutif menaikkan nilai Bitcoin dan Ethereum yang disebabkan oleh peningkatan permintaan, sementara penawaran Bitcoin sendiri terbatas.
Namun, Bitcoin sejak awal diatur secara algoritmik untuk dibatasi produksinya.
Jumlah Bitcoin dibatasi sampai mencapai 21 juta BTC (satuan Bitcoin).
Sampai saat ini, pasokan Bitcoin yang beredar hanya sekitar 7 juta BTC, sepertiga dari seluruh jumlah BTC yang akan dikeluarkan.
Uang BTC yang belum muncul dapat diakses dengan cara “mining” atau “menambang”. Jadi berbeda dengan uang kertas yang bisa dicetak dengan seenaknya tanpa ada yang mengawasi.


 
.