Penerapan Teknologi Transportasi Skyway di Indonesia

SKYWAY Memiliki Cabang-Cabang di 5 Benua, Di Indonesia SKYWAY TEKNOLOGI telah membuka kantor perwakilan a.n PT SKYWAY TEKNOLOGI INDONESIA, yang berkantor pusat di Menara BCA Lantai 50, JL M Husni Thamrin No.1, Jakarta Pusat. Pemerintah dan beberapa instansi pun sudah mulai melirik teknologi ini sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan. 
https://www.merdeka.com/teknologi/gandeng-skyway-indonesia-ui-akan-bangun-kereta-langit.html
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/04/11/onwtqe368-skyway-pikat-pengunjung-railwaytech-2017-dengan-teknologi-terdepan
http://jabar.tribunnews.com/2017/10/25/tak-mampu-bangun-lrt-pemprov-jabar-ditawari-skyway-yang-biayanya-seperenam-lrt
https://jateng.merdeka.com/infrastruktur/skyway-technologies-indonesia-ikut-dalam-program-desa-emas-171025i.html
https://autotekno.sindonews.com/read/1255088/124/teknologi-transportasi-ini-harus-indonesia-punya-1509993444
https://news.okezone.com/read/2017/11/07/337/1809620/konsep-kereta-langit-skyway-siap-bangun-infrastruktur-transportasi-antardesa-di-indonesia
http://ekbis.rmol.co/read/2017/12/01/316658/SkyWay-Technologies-Indonesia-Akan-Paparkan-Perkembangan-SkyWay-Dunia-
https://elshinta.com/news/126317/2017/11/07/warga-karimunjawa-bakal-segera-nikmati-moda-transportasi-skyway
https://www.cnnindonesia.com/tv/20171204113624-403-259950/kereta-gantung-ramah-banjir-dan-gempa-bumi
https://seword.com/techno/sky-way-teknologi-transportasi-yang-patut-dilirik-jokowi-r1XXoTFWM
https://economy.okezone.com/read/2017/06/08/320/1710711/kereta-cepat-jakarta-surabaya-bisa-capai-kecepatan-300-km-jam

Di era sekarang ini, mobil bukan lagi barang yang istimewa apalagi sepeda motor. Regulasi yang renggang tentang kepemilikan kendaraan bermotor telah berhasil membuat orang amat mudah memiliki kendaraan pribadi demi menunjang mobilitasnya beraktifitas.
Harusnya, banyaknya orang berhasil membeli mobil atau kendaraan bermotor lainnya pantas disyukuri sebab hal itu menunjukkan perekonomian kita secara umum meningkat. Akan tetapi, hidup kita itu ‘kan tidak melulu soal kemapanan secara ekonomi saja, bukan? Mapan secara ekonomi memang penting, tapi bukanlah satu-satunya. Maka, ketika mobil hampir dimiliki oleh semua orang, kita tidak serta-merta bebas dari masalah eksistensial.
Kesal ‘kan jadinya? Alih-alih memiliki kendaraan pribadi yang tentu dimaksudkan supaya tiba tepat waktu di tujuan, malah seringnya telat.Hal itu terjadi rupanya karena produksi mobil yang massif, terjual pula secara massif namun tidak linear dengan ketersediaan sarana infrastruktur penunjang yang memadai seperti kondisi dan jumlah jalan yang layak pakai.
Buka Jalur Baru, Bukan Solusi Atasi Kemacetan
Bagaimana tak mendatangkan masalah? Terutama di negara-negara yang masih berkembang seperti Indonesia, tingginya mobilitas yang tidak dibarengi dengan unsur penunjang yang tadi disebutkan justru meninggalkan PR yang teramat serius, kemacetan.
Hal ini berdampak langsung pada produktifitas pastinya. Niat agar tiba tepat waktu agar bisa selekasnya berkarya, harus terpangkas oleh waktu yang tersita dalam jebakan kemacetan. Bila demikian ceritanya, tingkat produktifitas pun sudah pasti menurun.
Maka, idealnya produktifitas kendaraan bermotor mesti dibarengi dengan pembangunan jalan. Membuka jalur baru adalah salah satu alternatif yang logis.
Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk, rasa-rasanya  bukan tidak mungkin warga yang jumlahnya makin bertambah tersebut bakal memicu penggunaan/pembelian kendaraan yang semakin tinggi.Alhasil, pemandangan di jalan raya khusunya di hari-hari libur nasional  menyisakan pemandangan miris, macet di mana-mana.
Maka, pembukaan jalur baru pun tetap tidak akan menjadi solusi sebab bagaimana mungkin jalur-jalur baru itu dibuka sementara ketersediaan lahan sudah semakin terdesak oleh hunian-hunian penduduk yang jumlahnya semakin meningkat tadi.
Coba bayangkan! Indonesia, asal orang punya duit, amat mudah mengoleksi sebanyak mungkin kendaraan di rumah. Padahal idealnya, 1 rumah maksimal punya 3 saja kendaraan bermotor, terserah jenis apa saja. Jika setahun, penduduk bertumbuh 1% saja, jumlah kendaraan sudah berapa? Masa harus buka lahan baru lagi terus-terusan guna mengatasi kemacetan karenanya?
Saatnya pemerintah perlu melirik solusi lain yang tidak berdampak pada terganggunya luas lahan hunian penduduk. Sebuah transportasi massal tepat guna yang menurut hemat saya, amat menjawabi masalah kemacetan serta menjangkau daerah-daerah terisolir di seluruh Indonesia tanpa perlu susah-susah membuka lahan atau jalur baru kini sudah ada. Tekhnologi transportasi yang kami maksudkan itu adalah Sky Way Technologies.
Sekilas Mengenai Sky Way Technologies
Dikembangkan selama kurang lebih 40 tahun oleh insinyur berkebangsaan Belarusia, Anatoly Yunitsky, Sky Way kini menjadi transportasi alternatif paling diminati di berbagai belahan dunia karena kelebihan-kelebihannya di bawah bendera perusahaan Sky Way Technologies Co, bermarkas di Minsk, Belarusia.
CJSC "Rail Skyway Systems Ltd", terdaftar pada tanggal 21 April 2014, melalui Kesatuan Project perusahaan desain "RAILSKYWAYSYSTEMS" dengan perusahaan saham gabungan "Skyway Technologies Co" (Minsk, Republik Belarus).
Kegiatan utama perusahaan adalah desain, konstruksi dan sertifikasi dari terobosan sistem transportasi SkyWay. Program pengembangan teknologi mencakup beberapa bidang pekerjaan:
    Solusi transportasi perkotaan (struktur trak, rolling stock dan infrastruktur terkait);
    Solusi transportasi kargo (struktur track, rolling stock dan infrastruktur terkait);
    Solusi transportasi kecepatan tinggi (struktur track, rolling stock dan infrastruktur terkait);
    Solusi transportasi pelabuhan laut (deep-water port pesisir, rolling stock dan infrastruktur terkait);
    Solusi pengembangan berbasis teknologi SkyWay.
Misi perusahaan ini adalah antara lain:
    Menciptaan jenis transportasi yang secara efektif memenuhi tantangan zaman,
    Memenuhi kebutuhan standar keamanan yang baru untuk penumpang,
    Teknologi "hijau" secara signifikan mengurangi beban kerusakan lingkungan akibat polusi,
    Non-standar solusi teknis yang akan secara radikal mengurangi energi dan biaya transportasi dan juga waktu.
    Dibutuhkan untuk mengatasi masalah transportasi konvensional penumpang dan kargo yang tidak efektif
    Meningkatkan keterjangkauan transportasi dan mengurangi biaya bersih dari barang dan jasa serta waktu
    Kenyamanan yang sama sekali berbeda dengan kendaraan-kendaraan yang umumnya dipakai saat ini juga kecepatan yang sama sekali berbeda.
Sedangkan dari segi tujuannya, Sky Way Technologies dimaksudkan untuk:
    Meningkatkan keamanan dan mengurangi cedera dalam transportasi,
    Mengurangi cacat dan lumpuh atau bahkan kematia dari jutaan orang di jalan-jalan akibat tabrakan/kecelakaan,
    Meningkatkan standar sosial hidup, memperbaiki lingkungan;
    Mempromosikan kegiatan sosial dari orang, menawarkan mereka kesempatan untuk melakukan perjalanan pada kecepatan yang lebih tinggi, kenyamanan dan keamanan.
Pembiayaan
Istimewanya lagi, Sky Way dalam hal pembiayaan pembangunannya ditawarkan dalam bentuk permodalan rame-rame (crowdfunding), hal mana membuat siapapun bisa memiliki saham di dalam perusahaan tersebut.
Maka, bila dilihat dari sudut keterdesakan penggunaannya, saya rasa pemerintah sudah saatnya melirik perusahaan ini untuk digandeng dalam menyambungkan pulau-pulau seindonesia tanpa harus memikirkan biaya pembebasan lahan yang berlebihan. Sebab pada jalan/jalur yang sudah ada, tinggal tancapkan tiang-tiang penyangganya. Tidak perlu juga berkelok-kelok sebagaimana lazimnya jalan raya untuk kendaraan konvensional sebab jalurnya bagaikan jalur-jalur kabel listrik, jadi otomatis bisa memperpendek jarak tempuh.
Sky Way, mengapa tidak?
Mari kita berhitung :
Berdasarkan info dari Okezone di :
https://economy.okezone.com/read/2017/06/08/320/1710711/kereta-cepat-jakarta-surabaya-bisa-capai-kecepatan-300-km-jam
Sky Way sangat layak diperhitungkan sebagai solusi transporatsi saat ini. Cek perhitungannya sebagai berikut:
Jarak Jakarta - Surabaya 763 km
Kereta Api Cepat Konvensional
@ Kecepatan max 300 km / jam
@ Waktu tempuh kira-kira 2.5 jam
@ Biaya 800 triliun rupiah (rel baru)
@ "Hanya" memakan biaya 81 triliun rupiah (rel sudah ada) :)
Sekarang kita bandingkan dengan Sky Way :
@ Kecepatan max 500 km / jam
@ Waktu tempuh kira-kira 1.5 jam
@ Biaya 3 juta $ per km (3.000.000 $ x 763 km = 2.289.000.000 $ ) = 30.443.700.000.000 rupiah (* kurs 13.300)
Lihat bedanya!
@ 300 km / jam vs 500 km/ jam
@ 2.5 jam vs 1.5 jam
@ 81 Triliun Rupiah VS 30,4 Triliun Rupiah
Sangat jelas bedanya. Menggunakan Sky Way lebih cepat, lebih murah !
Biaya pembangunan infrastrukturnya ada penghematan anggaran 50,6 triliun. Ini baru 1 proyek saja. Dengan 50.6 triliun sudah bisa membangun hampir 2 rute Jakarta-Surabaya lagi. Dapat dibayangkan Anggaran tersebut tentu bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur transportasi Sky Way untuk kota-kota lain di Indonesia.

 
.